Dari Jejak Labur ke Kanvas



Ditulis oleh Indria Pramuhapsari

Labur. Di mata Uskup Surabaya Monsinyur Agustinus Tri Budi Utomo alias Monsinyur Didik (MoDik), larutan kapur atau gamping tersebut sungguh istimewa. Dari situlah fondasi jiwa seni rohaniwan kelahiran Kabupaten Ngawi itu terbangun.

“Jika terkena tetesan air hujan, labur yang fungsinya mirip cat itu luntur. Lalu, lunturannya membentuk guratan-guratan aksen seperti sulur-sulur tanaman begitu. Pemandangan itu sangat indah bagi saya. Saya begitu terkesan,” ungkap MoDik dalam Sharing Session Art & Faith di Katedral Hati Kudus Yesus (HKY) Surabaya pada Selasa (11/3). 

Motif spontan yang terbentuk dari lunturan labur itu begitu lekat dalam memori MoDik kecil. Saat menggambar di sekolah pun, dia menggoreskan guratan-guratan yang menyerupai lunturan labur tersebut di kertas. “Dulu, waktu saya kecil, rumah-rumah di lingkungan saya bukan dicat, tapi ya dilabur itu. Maka, pemandangan yang saya sukai itu selalu muncul terutama pada musim hujan,” lanjutnya.



Seiring berjalannya waktu, skill menggambar MoDik kecil meningkat. Saat duduk di bangku SD, dia menjadi juara II kompetisi menggambar tingkat Kecamatan Sine. “Waktu itu hadiahnya Al-Qur’an,” ujarnya disusul senyum dan tawa kecil sekitar 83 orang yang hadir dalam talk show di Plaza Maria tersebut. 

Tumbuh dalam lingkungan nahdliyin, MoDik punya toleransi yang tinggi pada praktik dan ritual keagamaan. Bersamaan dengan itu, jiwa seninya terus tumbuh. Apalagi, dia sempat menimba ilmu dari guru menggambar yang jago. Hasilnya, MoDik cakap menggambar wayang dan lekukan-lekukan ornamennya. 

Dari Lukisan Pesanan hingga Yang Layak Lelang

Keprigelan anak ketiga dari lima bersaudara itu membuatnya kerap dimintai tolong oleh orang-orang dekat dan temannya untuk menggambar. Ada yang lantas menjadikan karya MoDik itu sebagai bingkisan untuk orang lain, ada pula yang menyimpannya. 

“Saya biasanya dimintai tolong untuk menggambar. Itu beda dengan jika saya sendiri yang pengin menggambar,” katanya.

Ketika memasuki kehidupan seminari dan pelayanan sebagai imam, jiwa seni MoDik kian erat membalut kelembutan hatinya. MoDik begitu peka pada kondisi sekitar. Ada banyak fakta yang membuatnya terenyuh, tetapi dia pun dihadapkan pada berbagai batasan. Dalam posisi itulah dia memanfaatkan skill melukisnya untuk membantu sesama. MoDik melelang lukisannya, dan dana yang terkumpul dia gunakan untuk membiayai pendidikan anak-anak yang tidak mampu.



“Seperti itulah affair saya,” ucap MoDik yang Selasa lalu didampingi Romo Theo dan Freddy H. Istanto di panggung talk show.  

Bishop’s Love Affair sengaja dia pilih sebagai judul pameran lukisan yang berlangsung di Aula Maria Gereja HKY Surabaya hingga 23 Maret nanti. MoDik ingin menunjukkan bahwa ada affair yang positif. Yakni, seperti yang dilakukannya pada periode sebelum menjadi uskup. Menciptakan karya seni, melelangnya, dan menggunakan hasilnya untuk membantu sesama. 

“Biasanya, saya melukis saat menangkap fakta yang memprihatinkan di sekitar saya. Seperti lukisan anak kecil yang telanjang dan menggigit karet di galeri itu. Lukisan tersebut terinspirasi fakta yang memang saya lihat langsung saat bertugas di Kalimantan,” urainya.

Melukis membuat MoDik kian mensyukuri penyertaan Tuhan dalam hidupnya. Namun, karena melukis bukan tugas utama seorang imam, tidak salah jika kemudian MoDik menggunakan istilah affair untuk aksinya tersebut. “Namun, tentu saja tujuannya tetap untuk kemuliaan nama Tuhan,” tegasnya. 

Ajak Masyarakat Luas Lebih Mengenal MoDik

Sejak 25 Februari lalu, Aula Maria Gereja HKY Surabaya berubah menjadi galeri. Umat Katolik dan masyarakat umum dari Surabaya dan sekitarnya bisa menikmati 18 lukisan karya MoDik secara gratis. “Tadinya hanya enam lukisan yang terkumpul. Tapi, panitia kemudian berhasil mengumpulkan sebanyak 18,” papar Aris Utama, art director Bishop’s Love Affair, saat dijumpai di galeri pada Kamis (6/3). 



Dia berharap, pameran karya uskup itu bisa menjadi sarana pewartaan sekaligus displai bagi masyarakat awam untuk lebih mengenal iman Katolik. “Ini terbuka untuk umum. Siapa pun bisa mengenal bapa uskup lewat lukisan-lukisan di galeri ini,” imbuh suami Olga Lydia tersebut. 

Ketua Penyelenggara Bishop’s Love Affair, Agustina Wariky, menyambut baik antusiasme masyarakat terhadap pameran lukisan MoDik tersebut. “Sampai Kamis tercatat ada sekitar 1.200 orang yang berkunjung. Itu yang tercatat. Ada banyak juga yang tidak mencatatkan nama mereka di daftar pengunjung. Kami sangat berterima kasih atas sambutan ini,” tandasnya. (*)





No comments